PENDAHULUAN
Ada karakteristik yang membuat pemimpin menonjol. Karakteristik ini mirip operasi plastik agar nyaman sehingga menjadi bagian tubuh. Orang semacam ini membuat kepemimpinan terlihat mudah. Pemimpin besar tidak harus menjadi pakar komunikasi, penjual andal, atau bahkan humoris. Mereka punya pribadi yang menyatakan, “Saya punya integritas pribadi yang tinggi dan menghargai orang dan kehidupan.” Hakekat orang ini berasal dari siapa mereka, bukan apa yang dikatakan atau dikerjakan.
Apakah kita dilahirkan dengan kualitas kepemimpinan atau dapatkah memilikinya dengan belajar dan meniru? Kepemimpinan dapat diajarkan dan bahkan dicontoh setelah orang tahu dan kagum. Namun pemimpin besar berasal dari suatu karakter dan disiplin menjadi jenis orang yang dihargai dan dikagumi orang, dengan kata lain jika kita ingin menjadi pemimpin besar,kita harus dapat memotivasi orang menjadi pemimpin diri sendiri.
Pemimpin besar tidak memerlukan peristiwa yang terjadi sekali-sekali. Mungkin bisa berupa kejadian berkelanjutan di seluruh negara atau organisasi jika kita menyadari bahwa pemimpin besar berarti terlebih dahulu menjadi orang besar. Perbedaan yang disorot adalah ada banyak pemimpin yang baik dan bahkan efektif. Namun dunia perlu kebesaran dari berbagai perspektif untuk mendorong Anda keluar dari realita sukses dan masuk ke khasanah signifikansi. Artinya, membuat bagian dunia menjadi tempat yang lebih baik untuk tempat tinggal dan bekerja.
Karakteristik kepemimpinan berasal dari karakter dan temperamen. Keduanya menentukan bagaimana bereaksi, apa yang dirasakan, dan bagaimana berpikir. Kita dapat mengubah kualitas kealamian dengan menyadari bahwa perubahan itu positif dan dengan memiliki kemauan dan keinginan untuk bertindak disiplin mengendalikan emosi.
Kita tidak harus terpaku dengan emosi yang di luar kendali atau suasana hati yang menentukan kita sedang tidak gembira atau cemberut. Jika kita menyertakan kecerdasan emosional (EQ), seperti sedang dalam penalaran, kita dapat memupuk karakteristik yang membentuk dasar-dasar kepemimpinan besar.
Berdasarkan uraian di atas maka permasalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah apa itu kecerdasan emosi (EQ), hubungannya dengan kepemimpinan.
PEMBAHASAN
Pemimpin
Pengertian Pemimpin
Dalam bahasa Indonesia "pemimpin" sering disebut penghulu, pemuka, pelopor, pembina, panutan, pembimbing, pengurus, penggerak, ketua, kepala, penuntun, raja, tua-tua, dan sebagainya. Sedangkan istilah Memimpin digunakan dalam konteks hasil penggunaan peran seseorang berkaitan dengan kemampuannya mempengaruhi orang lain dengan berbagai cara.
Istilah pemimpin, kemimpinan, dan memimpin pada mulanya berasal dari kata dasar yang sama "pimpin". Namun demikian ketiganya digunakan dalam konteks yang berbeda.
Pemimpin adalah suatu lakon/peran dalam sistem tertentu; karenanya seseorang dalam peran formal belum tentu memiliki ketrampilan kepemimpinan dan belum tentu mampu memimpin. Istilah Kepemimpinan pada dasarnya berhubungan dengan ketrampilan, kecakapan, dan tingkat pengaruh yang dimiliki seseorang; oleh sebab itu kepemimpinan bisa dimiliki oleh orang yang bukan "pemimpin".
Arti pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya kecakapan/ kelebihan di satu bidang sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi pencapaian satu atau beberapa tujuan. Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan - khususnya kecakapan-kelebihan di satu bidang , sehingga dia mampu mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu untuk pencapaian satu beberapa tujuan. (Kartini Kartono, 1994 : 181).
Menurut sejarah, masa “kepemimpinan” muncul pada abad 18. ada beberapa pengertian kepemimpinan, antara lain :
kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi dalam situasi tertentu dan langsung melalui proses komunikasi untuk mencapai satu atau beberapa tujuan tertentu ( Tannebaum, weschler and nassarik, 1961,24).
Kepimpinan adalah sikap pribadi yang memimpin pelaksanaan aktivitas untuk mencapai tujuan yang diinginkan ( Shared Goal, Hemhiel & Coons, 1957).
Kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktifitas kelompok yang diatur untuk mencapai tujuan bersama ( Rauch & Behling, 1984).
Kepemimpinan adalah suatu proses yang memberi arti (penuh arti kepemimpinan) pada kerjasama dan dihasilkan dengan kemauan untuk memimpin dalam mencapai tujuan (Jacobs & Jacques, 1990, 281).
Pemimpin jika dialihbahasakan ke bahasa Inggris menjadi "LEADER", yang mempunyai tugas untuk me-LEAD anggota disekitarnya. Sedangkan makna LEAD adalah :
Loyality, seorang pemimpin harus mampu membagnkitkan loyalitas rekan kerjanya dan memberikan loyalitasnya dalam kebaikan.
Educate, seorang pemimpin mampu untuk mengedukasi rekan-rekannya dan mewariskan tacit knowledge pada rekan-rekannya.
Advice, memberikan saran dan nasehat dari permasalahan yang ada.
Discipline, memberikan keteladanan dalam berdisiplin dan menegakkan kedisiplinan dalam setiap aktivitasnya.
Menurut Islam, kepemimpinan adalah amanat yang harus diberikan kepada seseorang yang ahli (kapabel, kredibel, akseptabel) dan harus ditunaikan dalam konsistensi Hukum Kitabiyah, Hukum Robbaniyah, dan Hukum Kauniyah demi mencapai kehidupan yang adil berkemakmuran dan makmur berkeadilan, baik secara material maupun spiritual.
Ibnu Taimiyah dalam kitab As-Siyasah As-Syari'iyyah menegaskan bahwa oleh karena kepemimpinan itu suatu amanah, maka dalam meraihnya harus dengan cara yang hak, fair, dan tidak melanggar hukum sehingga implementasi kepemimpinannya pun harus dengan benar dan baik juga.
Seorang pemimpin yang baik dan benar akan selalu menunaikan amanah kepemimpinannya berdasarkan moralitas yang dapat dipertanggungjawabkan, baik secara vertikal maupun horizontal. Suatu tuntutan moralitas pemimpin yang ideal pernah disindir dalam pidato kenegaraan Khalifah Abu Bakar Ash Shidiq ketika beliau dilantik menjadi kepala negara sepeninggalnya Rasulullah saw. Moralitas pemimpin dimaksud meliputi 7 hal, yaitu :
Sifat tawadhu' (rendah hati).
Sifat ini mensyaratkan bahwa seorang pemimpin harus senantiasa menjaga martabatnya dalam mengemban amanah kepercayaan dengan memerankan dirinya sebagai public service; mau melayani rakyat yang dipimpinnya dengan tanggung jawab yang benar.
Tidak alergi terhadap kritik.
Seorang pemimpin dengan kearifan dan kebijaksanaannya akan selalu terbuka terhadap kritik dan saran yang konstruktif demi menggalang partisipasi rakyat yang dipimpinnya, sehingga melahirkan social support dan social control yang sehat.
Amanah dan jujur.
Hal ini merupakan tuntutan mutlak demi menjaga kesinambungan kepemimpinan. Karena pemimpin merupakan pengemban amanah rakyat, ia dituntut untuk senantiasa amanah dan jujur dalam mengemban amanah rakyat.
Berlaku adil dan tidak memihak.
Artinya, seorang pemimpin yang hak akan selalu menempatkan semua permasalahan pada proporsi yang sebenarnya, tidak pilih kasih dan tidak bertindak sewenang-wenang.
Konsisten dalam perjuangan/jihad.
Seorang pemimpin akan selalu beristiqomah, konsisten dan tidak 'tinggal gelanggang colong playu' sebelum perjuangan berhasil.
Terbuka dan demokratis.
Artinya, seorang pemimpin yang hak akan selalu menghargai perbedaan pendapat sepanjang hal itu merupakan rahmat demi menegakkan kebenaran dan keadilan.
Berbakti kepada Allah SWT.
Ini merupakan conditio sine qua non bagi seorang pemimpin yang implementasinya antara lain, dengan menegakkan shalat. Jika seorang pemimpin tetap pada garis-garis kebijaksanaan Allah SWT, maka praktek kepemimpinannya pasti membawa kemaslahatan bagi rakyatnya. Inilah moralitas pemimpin yang harus ditegakkan.
Faktor-Faktor yang Harus Dimiliki oleh Pemimpin
Ada beberapa faktor yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin sejati antara lain adalah :
Percaya diri
Inilah syarat mutlak pertama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin sejati. Jangan berharap dan bermimpi jadi pemimpin sejati kalau tidak percaya diri (PD). Kalau berlum memiliki percaya diri, PD tidak harus dalam segala hal, walaupun itu lebih baik. Yang penting PD dulu dalam memimpin.
Beberapa ciri pemimpin PD adalah : Pertama. Selalu menganggap setiap orang sejajar dengan dirinya, tidak lebih tinggi dan tidak lebih rendah. Tidak menunduk atau mengangkat kepala, apa pun status orang yang dihadapi. Kedua, sopan dan rendah hati. Kesopanan dan kerendahan terkadang kabur maknanya dengan keminderan. Pemimpin sopan bukan karena minder, tapi memang etika sosial yang harus diikuti.
Visi
Pemimpin harus memiliki visi atau wawasan ke depan yg
jelas. Contoh, sebagai ketua IMM Abduh FAI, periode 2009/2010, Maria Ulfa harus memiliki visi dan target apa yang harus dicapai untuk perbaikan komisariat dan peningkatan kualitas anggota dan para kadernya. Dalam konteks ini, tentu saja yang terpenting adalah peningkatan kualitas intelektual anggota dan para kadernya serta penciptaan Imej IMM Abduh FAI.
Visi dapat dicapai dengan: 1) banyak membaca media, milis, dll 2) banyak bergaul dan bertanya; 3) banyak menulis/berkomentar, walaupun hanya di buku harian atau di milis; 4) aktif diskusi; 5) membaca buku biografi tokoh-tokoh besar nasional dan dunia.
Idealisme
Pemimpin yang baik dan memiliki kepribadian kuat selalu bersikap idealis. Dia tidak akan kompromi pada nilai-nilai idealisme yang prinsip; tapi rela bersikap kompromistis, elastis atau pragmatis pada hal-hal yang
tidak prinsipil. Prof Dr Hamka lebih rela mundur dari jabatan sebagai ketua MUI karena tidak mau mengkompromikan idealismenya. Jaksa Baharuddin Lopa rela dipindahtugaskan ke tempat lain karena tidak mau
tunduk pada perintah atasan yang ingin mempetieskan masalah KKN di era Suharto; ia juga rela dimusuhi oleh para diplomat bawahannya sewaktu jadi dubes di Arab Saudi karena tidak mau korupsi. Dan kasus yg lagi hangat saat ini, Munir SH rela mati diracun demi membela rakyat kecil dan tidak mau tunduk pada ancaman pihak yang merasa dirugikan. Nyawa sangat berharga, dan idealisme sama berharganya dg nyawa itu sendiri.
Tanggung jawab
Salah satu hal yg membuat orang percaya memilih kita
jadi pemimpin adalah karena kita dinilai memiliki tanggung jawab. Tanggung jawab itu identik dengan sikap konsisten dalam ucapan dan perilaku. Tanggung jawab juga berkaitan erat dengan sikap semangat yang stabil dari awal tugas sampai akhir. Tidak hangat-hangat kotoran ayam. Dan akan selalu melakukan dan menyelesaikan tugas yang diemban dengan penuh dedikasi, tanpa peduli tugasnya mendapat apresiasi atau kritikan bahkan makian. Karena ia tahu, melaksanakan tugas dan menyelesaikannya sampai tuntas adalah dalam rangka membangun kredibilitas kepemimpinannya sendiri di masa sekarang dan masa depan.
Merakyat atau Egaliter
Salah satu ciri menyolok dari pemimpin massa yang karismatik dan populer adalah sikapnya yang egaliter atau merakyat dan accessible (mudah dihubungi). Gus Dur, mantan presiden RI, adalah sosok yang dikenal
sangat egaliter. Sewaktu masa mudanya di Jombang, Jawa Timur, ia dikenal akrab dengan berbagai kalangan. Dari tukang becak sampai presiden, begitu juga ketika kuliah di Kairo dan Baghdad. Ketika pindah ke Jakarta,
mengikuti ayahnya yang jadi Menteri Agama era Sukarno dan ibunya yang jadi anggota MPR era Suharto, ia sama sekali tidak menampakkan sikap seperti “anak gedongan” yang umumnya “keren” tapi brainless. Kedekatannya dengan kalangan gelandangan sampai kelompok elite Jakarta
tercatat dengan jelas termasuk di kalangan media. Kalau dia ingin menulis artikel di TEMPO, ia cukup datang ke kantor redaksi dan mengetik sebentar di komputer salah satu redaktur dan tanpa pamit pergi begitu saja. Minggu berikutnya, tulisannya akan tampil di Tempo.
Sikap egaliter itu identik dengan kerendah hati. Salah satu ciri rendah hati (tawadhu’) adalah open-minded dan tidak marah ketika dikritik, ketika dihina, ketika dicaci. Karena dalam semuanya selalu terdapat kebenaran. Dan karena kebenaran tidak hanya terbungkus dalam kotak beludru yang indah dan rapi, ia terkadang berada dalam tumpukan sampah yg kotor.
Tidak Egois atau Caring
Caring berarti selalu peduli pada nasib orang lain. Pemimpin sejati selalu “mengalah” ketika kepentingan pribadinya bertabrakan dengan kepentingan umum. Ia selalu berkorban. Termasuk mengorbankan perasaannya sendiri bilamana perlu. Ia tidak ingin senang di saat ‘anak buah’nya sengsara, baik lahir atau batin.
Bermartabat
Pemimpin itu simbol yang mewakili institusi dan seluruh anggotanya. Citra baik atau buruk sang pemimpin akan mempengaruhi citra institusi dan anggotanya. Ketika jadi pemimpin, ia tak lagi milik dirinya sendiri dan merasa bebas berbuat apa saja. Ketika akan melakukan sesuatu, hal pertama yang mesti diingat seorang pemimpin adalah apakah hal itu akan merusak martabat institusi, anggota dan kepemimpinannya.
Tipe –tipe pemimpin
Pada umumnya para pemimpin dalam setiap organisasi dapat diklasifikasikan menjadi lima type utama yaitu sebagai berikut :
Tipe pemimpin otokratis
Tipe pemimpin ini menganggap bahwa pemimpin adalah merupakan suatu hak.
Ciri-ciri pemimpin tipe ini adalah sebagai berikut :
Menganggap bahwa organisasi adalah milik pribadi
Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi
Menganggap bahwa bawahan adalah sebagai alat semata
Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat dari orang lain
Selalu bergantung pada kekuasaan formal
Dalam menggerakkan bawahan sering mempergunakan pendekatan (approach) yang mengandung unsur paksaan dan ancaman.
Dari sifat-sifat yang dimiliki oleh tipe mimpinan otokratis tersebut di atas dapat diketahui bahwa tipe ini tidak menghargai hak-hak dari manusia, karena tipe ini tidak dapat dipakai dalam organisasi modern.
Tipe pemimpin militoristis
Seorang pemimpin yang bertipe militeristis mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :
a. Dalam menggerakkan bawahan untuk yang telah ditetapkan, perintah mencapai tujuan digunakan sebagai alat utama.
b. Dalam menggerakkan bawahan sangat suka menggunakan pangkat dan jabatannya.
c. Sonang kepada formalitas yang berlebihan
d. Menuntut disiplin yang tinggi dan kepatuhan mutlak dari bawahan
e. Tidak mau menerima kritik dari bawahan
f. Menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan.
Dari sifat-sifat yang dimiliki oleh tipe pemimpin militeristis jelaslah bahwa tipe pemimpin seperti ini bukan merupakan pemimpin yang ideal
3. Tipe pemimpin paternalistis
Sifat-sifat umum dari tipe pemimpin paternalistis dapat dikemukakan sebagai berikut:
Menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa.
Bersikap terlalu melindungi bawahan
Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan. Karena itu jarang dan pelimpahan wewenang.
Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya tuk mengembangkan inisyatif daya kreasi.
Sering menganggap dirinya maha tau.
Harus diakui bahwa dalam keadaan tertentu pemimpin seperti ini sangat diporlukan. Akan tetapi ditinjau dari segi sifar-sifar negatifnya pemimpin faternalistis kurang menunjukkan elemen kontinuitas terhadap organisasi yang dipimpinnya.
Tipe pemimpin karismatis
Sampai saat ini para ahli manajemen belum berhasil menamukan sebab-sebab mengapa seorang pemimin memiliki karisma. Yang diketahui ialah tipe pemimpin seperti ini mampunyai daya tarik yang amat besar, dan karenanya mempunyai pengikut yang sangat besar. Kebanyakan para pengikut menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin seperti ini, pengetahuan tentang faktor penyebab Karena kurangnya seorang pemimpin yang karismatis, maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (supernatural powers), perlu dikemukakan bahwa kekayaan, umur, kesehatan profil pendidikan dan sebagainya. Tidak dapat digunakan sebagai kriteria tipe pemimpin karismatis.
Tipe pomimpin demokratis
Dari semua tipe kepemimpinan yang ada, tipe kepemimpinan demokratis dianggap adalah tipe kepemimpinan yang terbaik. Hal ini disebabkan karena tipe kepemimpinan ini selalu mendahulukan kepentingan kelompok dibandingkan dengan kepentingan individu.
Beberapa ciri dari tipe kepemimpinan demokratis adalah sebagai berikut:
1. Dalam proses menggerakkan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah mahluk yang termulia di dunia.
2. Selalu berusaha menselaraskan kepentingan dan tujuan pribadi dengan kepentingan organisasi.
3. Senang menerima saran, pendapat dan bahkan dari kritik bawahannya.
4. Mentolerir bawahan yang membuat kesalahan dan berikan pendidikan kepada bawahan agar jangan berbuat kesalahan dengan tidak mengurangi daya kreativitas, inisyatif dan prakarsa dari bawahan.
5. Lebih menitik beratkan kerjasama dalam mencapai tujuan.
6. Selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya.
7. Berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.
8. Dan sebagainya.
Dari sifat-sifat yang harus dimiliki oleh pemimpin tipe demokratis, jelaslah bahwa tidak mudah untuk menjadi pemimpin demokratis.
Emotional Question (EQ) dan Kepemimpinan
Pengertian Emotional Question (EQ)
Para pakar memberikan definisi beragam pada EQ, diantaranya adalah kemampuan untuk menyikapi pengetahuan-pengetahuan emosional dalam bentuk menerima, memahami, dan mengelolanya.
Menurut definisi ini, EQ mempunyai empat dimensi berikut :
Kemampuan untuk mengenali perasaan sendiri, perasaan orang lain, memotivasi diri sendiri, mengelola emosi dengan baik, dan berhubungan dengan orang lain (DANIEL GOLDMAN).
Kemampuan mengerti dan mengendalikan emosi (PETER SALOVELY & JOHN MAYER).
Kemampuan mengindra, memahami dan dengan efektif menerapkan kekuatan, ketajaman, emosi sebagai sumber energi, informasi, dan pengaruh (COOPER & SAWAF).
Bertanggung jawab atas harga diri, kesadaran diri, kepekaan sosial, dan adaptasi sosial (SEAGEL).
Unsur kecerdasan EQ ( Antonio, 2007:27) antara lain :
Mempresepsikan dan mengekspresikan emosi
Menggunakan emosi dalam aktivitas kognitif
Memahami emosi
Mengatur emosi
Perilaku orang yang memiliki kecerdasan emosi :
Menghargai emosi negative orang lain
Sabar menghadapi emosi negative orang lain
Sadar dan menghargai emosi diri sendiri
Emosi negative untuk membina hubungan
Peka terhadap emosi orang lain
Tidak bingung menghadapi emosi orang lain
Tidak menganggap lucu emosi orang lain
Tidak memaksa apa yang harus dirasakan
Tidak harus membereskan emosi orang lain
Saat emosional adalah saat mendengarkan
Hubungan EQ dengan Kepemimpinan
Seorang pemimpin haruslah memiliki perasaan, kebutuhan jiwa dan kemampuan intelektual. Dengan kata lain, modal yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin tidak hanya intelektualitas semata, namun harus didukung oleh kecerdasan emosional, komitmen pribadi dan integritas yang sangat dibutuhkan untuk mengatasi berbagai tantangan. Seringkali kegagalan dialami karena secara emosional seorang pemimpin tidak mau atau tidak dapat memahami dirinya sendiri dan orang lain. Sehingga keputusan yang diambil bukanlah dari hati, yang mempertimbangkan martabat manusia dan menguntungkan instansi atau organisasi yang dipimpin, melainkan cenderung egois, self centered yang berorientasi pada kepentingan pribadi dan kelompok sehingga akibatnya adalah seperti yang dialami oleh kebanyakan instansi atau organisasi saat ini.
Patton mengemukakan bahwa di masa kini organisasi atau instansi tidak hanya membutuhkan pemimpin yang punya kapasitas intelektual. Sebab yang membuat sukses organisasi adalah pemimpin yang bisa mendapatkan komitmen dari bawahannya. Pemimpin seperti ini adalah mereka yang memahami bawahannya sepenuh hati dan sanggup memacu bawahannya untuk bekerja semaksimal mungkin. Singkatnya, pemimpin yang memiliki kecerdasan intelektual dan emosional.
KESIMPULAN
Beberapa definisi kepemimpinan menggambarkan ‘asumsi’ bahwa kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang, baik individu maupun kelompok. Seorang pemimpin adalah seseorang yang aktif membuat rencana-rencana, mengkoordinasi, melakukan percobaan dan memimpin pekerjaan untuk mencapai tujuan bersama. Karakteristik seorang pemimpin didasarkan pada prinsip-prinsip belajar seumur hidup, berorientasi pada pelayanan dan membawa energi positif.
Keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya ditentukan oleh intelligence saja tapi juga didukung oleh kecerdasan emosional, komitmen pribadi dan integritas untuk membuat rencana-rencana, mengkoordinasi dan memimpin pekerjaan untuk mencapai tujuan bersama.
DAFTAR PUSTAKA
Siagian, Sondang P, 1979. Peranan staf dalam management. Jakarta: Gunung Agung.
Purwanto, M. Ngalim. 1991. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Robbins, Stephen P. 2002. Prinsip-prinsip Perilaku Organisasi. Jakarta: Erlangga
Thoha, Miftah. 1983. Kepemimpinan dalam Manajemen. Jakarta: Rajawali Pers.
Antonio, M Syafii. 2007. Muhammad SAW: The Super Leader Manager. Jakarta : Tazkia Multimedia & ProLM Cetre
http://www.dakwatuna.com/2009/pemimpin/ diakses pada tanggal 9 Juli 2009 jam 14.00 WIB
http://id.wikibooks.org/wiki/Pemimpin diakses pada tanggal 9 Juli 2009 jam 14.00 WIB
http://afatih.wordpress.com/2005/05/03/pemimpin-kredibel/ diakses pada tanggal 9 Juli 2009 jam 14.00 WIB
http://kepemimpinan-fisipuh.blogspot.com/2009/03/pengertian-pemimpin-dalam-bahasa.html diakses pada tanggal 9 Juli 2009 jam 14.00 WIB
http://www.kmpk.ugm.ac.id/data/SPMKK/5a-KEPEMIMPINAN(revDes'02).doc diakses pada tanggal 9 Juli 2009 jam 14.00 WIB
http://www.republika.co.id/berita/56608/Moralitas_Pemimpin diakses pada tanggal 9 Juli 2009 jam 14.00 WIB
http://cahledug.wordpress.com/2008/06/03/peran-iq-eq-sq-dalam-perkembangan-etika-profesi/ diakses pada tanggal 9 Juli 2009 jam 14.00 WIB
http://digilib.usu.ac.id/download/fe/manajemen-friska.pdf diakses pada tanggal 9 Juli 2009 jam 14.00 WIB
